its True.. "Kenapa sih Harus"
a note from Tere Liye
*Kenapa sih harus?
Kalian pasti pernah melihat secara langsung. Ada warga satu RT
melakukan gotong royong, misalnya, membersihkan selokan, lantas di cat
biar bagus. Nah, tiba2 ada warga yang jangankan ikut gotong royong, dia
baru saja gabung pas acara makan2 sorenya, lantas nyeletuk "Kenapa di
cat merah sih? Kenapa nggak biru saja? Lebih bagus." Warga satu RT sebal
sekali melihat orang tersebut nyeletuk. Sialnya, orang2 ini nggak
pernah merasa, malah sok akrab, sok kenal sekali, merasa tidak berdosa.
Atau dalam kejadian lainnya, teman2 satu kelas lagi bahu-membahu
menyelesaikan tugas guru. Nah, tiba2 ada teman satu group yang ikut
kerja juga nggak, tapi sepanjang pekerjaan hanya bisa ngomong,
"Seharusnya begini, seharusnya begitu." Dan seterusnya. Pun sama,
menyebalkan sekali melihat kawan seperti ini. Apesnya, orang2 ini jelas
tidak merasa bersalah kalau dia hanya sibuk komen ngerecoki.
Maka my dear anggota page, pastikan kita tidak termasuk orang2 sebagai berikut:
1. Memberikan komentar atas sesuatu yang sudah terjadi.
Kenapa nggak ini sih, kenapa nggak itu sih. Kenapa? Kenapa? Banyak
sekali contohnya. Makanan sudah disajikan, kita masih komen kenapa pesan
ini, sih? Makanan sudah matang, terhidang di atas meja, kita masih
komen ini, itu. Sungguh komennya mubazir, hei, sesuatu yang sudah jadi
itu tidak bisa diapa-apakan lagi. Komen kita sudah telat jenisnya, sama
sekali tidak bermanfaat pula. Namanya juga sudah selesai. Maka komen yg
benar itu adalah, kalau kita tidak sreg, tidak suka, "Kenapa kita sejak
awal, sebelum terjadi, kita tidak ikut mengerjakannya, memberikan usul.
Kenapa baru sekarang kita ribut komennya?"
2. Memberikan komentar ketika orang sedang bekerja
Ada sebuah nasehat lama yang penting dipikirkan: Jika kita tidak ikut
bekerja, maka kita sama sekali tidak berhak ngerecoki dengan komen.
Biarkan orang lain menyelesaikannya, atau jika mau, ulurkan tangan,
bantu kerjakan. Dalam setiap kerja bareng, memang lazim, sepuluh orang,
maka yang kerja hanya dua atau tiga, sisanya hanya sibuk bicara.
Pastikan kita tidak termasuk sisanya tersebut. Kalau tidak bisa bantu,
tidak peduli, lebih baik sumpal mulut sendiri, perhatikan.
3. Memberikan komentar padahal tidak paham
Ketika kita tidak paham, tapi kita sengaja mencemplungkan diri komen,
maka sama saja seketika menunjukkan ketidakpahaman kita. Sama persis
seperti seseorang berbaju merah mencolok tiba2 masuk ke ruangan dgn
undangan berbaju putih semua. Mencolok sekali sok tahu kita. Kita sih
ngotot merasa tahu, bilang dgn yakinnya merasa berbeda itu keren, tapi
orang seisi ruangan tahu persis kita sok tahu dan mengganggu. Ada banyak
contoh hal2 seperti ini. Ketika ada yang membahas tentang buku atau
film misalnya, baca juga nggak pernah, nonton juga tidak pernah, maka PD
sekali ikut komen. Selalu pastikan kita benar2 mengerti, paham, tahu,
baru ikut bicara.
4. Memberikan komentar atas hal2 kecil
Sudah jadi kebiasaan orang2 sekarang, nyeletuk dalam setiap kesempatan.
Hal2 kecil dikomentari. Hal2 yang sudah sama2 tahu dikomentari. Hal2
yang, oh dear, semua orang juga maklum memang begitu, tetappp saja
dikomentari. Jika kita kenal dengan lawan bicara kita, mungkin itu bumbu
percakapan yang baik. Tapi jika kita kenal juga nggak, tahu juga tidak,
itu yang disebut dengan SKSD, sok kenal sok dekat, sok akrab. Selalu
dipikirkan minimal dua kali saat kita mau menerjunkan diri bicara,
komen. Pastikan kalau bicara kita memang bermanfaat. Jika tidak, tentu
ambil pilihan orang2 bijak: diam.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar