Sabtu, 08 Juni 2013

its True.. "Kenapa sih Harus"

a note from Tere Liye

*Kenapa sih harus?

Kalian pasti pernah melihat secara langsung. Ada warga satu RT melakukan gotong royong, misalnya, membersihkan selokan, lantas di cat biar bagus. Nah, tiba2 ada warga yang jangankan ikut gotong royong, dia baru saja gabung pas acara makan2 sorenya, lantas nyeletuk "Kenapa di cat merah sih? Kenapa nggak biru saja? Lebih bagus." Warga satu RT sebal sekali melihat orang tersebut nyeletuk. Sialnya, orang2 ini nggak pernah merasa, malah sok akrab, sok kenal sekali, merasa tidak berdosa.

Atau dalam kejadian lainnya, teman2 satu kelas lagi bahu-membahu menyelesaikan tugas guru. Nah, tiba2 ada teman satu group yang ikut kerja juga nggak, tapi sepanjang pekerjaan hanya bisa ngomong, "Seharusnya begini, seharusnya begitu." Dan seterusnya. Pun sama, menyebalkan sekali melihat kawan seperti ini. Apesnya, orang2 ini jelas tidak merasa bersalah kalau dia hanya sibuk komen ngerecoki.

Maka my dear anggota page, pastikan kita tidak termasuk orang2 sebagai berikut:

1. Memberikan komentar atas sesuatu yang sudah terjadi.
Kenapa nggak ini sih, kenapa nggak itu sih. Kenapa? Kenapa? Banyak sekali contohnya. Makanan sudah disajikan, kita masih komen kenapa pesan ini, sih? Makanan sudah matang, terhidang di atas meja, kita masih komen ini, itu. Sungguh komennya mubazir, hei, sesuatu yang sudah jadi itu tidak bisa diapa-apakan lagi. Komen kita sudah telat jenisnya, sama sekali tidak bermanfaat pula. Namanya juga sudah selesai. Maka komen yg benar itu adalah, kalau kita tidak sreg, tidak suka, "Kenapa kita sejak awal, sebelum terjadi, kita tidak ikut mengerjakannya, memberikan usul. Kenapa baru sekarang kita ribut komennya?"

2. Memberikan komentar ketika orang sedang bekerja
Ada sebuah nasehat lama yang penting dipikirkan: Jika kita tidak ikut bekerja, maka kita sama sekali tidak berhak ngerecoki dengan komen. Biarkan orang lain menyelesaikannya, atau jika mau, ulurkan tangan, bantu kerjakan. Dalam setiap kerja bareng, memang lazim, sepuluh orang, maka yang kerja hanya dua atau tiga, sisanya hanya sibuk bicara. Pastikan kita tidak termasuk sisanya tersebut. Kalau tidak bisa bantu, tidak peduli, lebih baik sumpal mulut sendiri, perhatikan.

3. Memberikan komentar padahal tidak paham
Ketika kita tidak paham, tapi kita sengaja mencemplungkan diri komen, maka sama saja seketika menunjukkan ketidakpahaman kita. Sama persis seperti seseorang berbaju merah mencolok tiba2 masuk ke ruangan dgn undangan berbaju putih semua. Mencolok sekali sok tahu kita. Kita sih ngotot merasa tahu, bilang dgn yakinnya merasa berbeda itu keren, tapi orang seisi ruangan tahu persis kita sok tahu dan mengganggu. Ada banyak contoh hal2 seperti ini. Ketika ada yang membahas tentang buku atau film misalnya, baca juga nggak pernah, nonton juga tidak pernah, maka PD sekali ikut komen. Selalu pastikan kita benar2 mengerti, paham, tahu, baru ikut bicara.

4. Memberikan komentar atas hal2 kecil
Sudah jadi kebiasaan orang2 sekarang, nyeletuk dalam setiap kesempatan. Hal2 kecil dikomentari. Hal2 yang sudah sama2 tahu dikomentari. Hal2 yang, oh dear, semua orang juga maklum memang begitu, tetappp saja dikomentari. Jika kita kenal dengan lawan bicara kita, mungkin itu bumbu percakapan yang baik. Tapi jika kita kenal juga nggak, tahu juga tidak, itu yang disebut dengan SKSD, sok kenal sok dekat, sok akrab. Selalu dipikirkan minimal dua kali saat kita mau menerjunkan diri bicara, komen. Pastikan kalau bicara kita memang bermanfaat. Jika tidak, tentu ambil pilihan orang2 bijak: diam.

Semoga bermanfaat.
 
https://www.facebook.com/darwistereliye/posts/553039178079988 

Jumat, 07 Juni 2013

Soo Complicatedd!!!!

Rasa rasanya lebih baik tidak banyak tau, dari pada banyak tau.. errrr!!:(


Kejadian hari ini jum'at tanggal 07 Juni 2013

Berawal dari Rapat tanggal Rabu, 04 Juni 2013, kalo diputuskan Jum'at ini Tidak jadi Ujian Semester Genap, sudah bulat lo pemirsa Putusannya dan ternyata pagi pagi saya ditelpon seorang Teman " apakah sudah pasti ujian diundur? ", dengan sok yakin saya bilang" iya"... masih santai santai di Rumah namun karena memastikan lagi saya telpon Wakakur. kamu tau ga jawab nya apa " Ujian Tetap dilaksanakan seperti jadwal awal"... uhhfff!!!
ini akibat tau hasil rapat koordinasi terrakhir nich.. coba bagi yang lain yang tidak tau :D
Mereka masih bisa ga sesak di nyampe sakolah heheeh.. :)

Dimulai lah bekerjaran dengan Limit waktu 20 Menit buat Ganti Baju, berjalan cari ojek, perjalanan ke sakolah more deg deg an... takut terlambaaaaatt! :d.. terpaksa bilang sama bapak Ojek biar Ngebut you know its not me.. ngebuttt!! hati takut namun karena dikerjar waktu apa mau dikata... arrrgghh!!!
*Nyesek!

Tiba di sakolah ga kalah Crowdednya. panitia dan pengawas Ujian juga tidak siap karena pemberitahuan Rabu Sore itu, yang awalnya saya harus ngawas satu shift jadi dua shift,
Rapat koordinasi untuk Lomba Sekolah Sehat menanti, persiapan untuk Gotong Royong Sabtu(08/06) sungguh sungguh Complicated...
Pekerjaan untuk Lomba belom kelar, Ujian di Undur 2 hari, semuanya masih berantakan!!

semoga kejadian hari ini tidak terulang esok hari dan seterusnya.. :D
# I Hope Soo

kira kira seperti ini kalo dikejar waktu :D



Minggu, 02 Juni 2013

Skala Prioritas


Dalam hidup dan kehidupan masing masing orang memiliki skala prioritas, Hal dimana seseorang merasa harus atau penting memilih sesutu berdsarkan prinsip yang diyakininya benar, Sesuatu yang bisa di abaikan, sesutu yang harus dikerjakan.



Pekerjaan yang  mungkin menurut seseorang sepele, tidak sama hal nya dengan orang lain menganggap hal itu berat dan wajib untuk di kerjakan dengan tuntas, sehingga membuat dia berpikir berat dan lain sebagainya,

Dalam hal skala prioritas kita menentukan prioritas kita dengan cara membuat daftar list yang harus dikerjakan
 namun betapa banyak dari kita yang tidak mencatat list kebutuhan kita, kadang kita berbuat berdasarkan keinginan semata, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Sehingga pada waktunya nanti kita kelabakan sendiri mengerjakan target yang mungkin hanya disusun oleh instansi tempat kita bekerja. sementara kita belum mengerjakan pekerjaan tersebut.

Dalam manajemen waktu pun dijelaskan untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dan Rasulullah menegaskan dalam hadistnya kalo Orang yang buruk dari hari kemaren maka disebut orang yang celaka..
nauzubillahui min dzalik... \

mari kita buat list skala Prioritas kita