assalamu'alaikum wr. wb selamat Datang di Blog ini | Kutipan "Hiduplah setiap hari seperti "Matematika": Mengalikan sukacita, Mengurangi kesedihan, Menambahkan semangat, Membagi kebahagiaan dan Menguadratkan kasih antar sesama.|
Jumat, 31 Mei 2013
akhir Mei..
Minggu ini merupakan minggu yang sibuk buanget!
kegiatan sekolah yang sangat banyak, gotong royong, dikejar deadline mau lomba sekolah sehat, membuat soal Ujian akhir semester.
Kegiatan yang mungkin menurut sebagian orang tidak penting, sementara sebagian lain menggagap hal yang bisa dikerjakan nanti nanti
pada akhir mei ini juga pengumuman kapan ujian kompetensi guru,Belajar lagi, lagi lagi
Semoga saja bisa dilalui dengan baik baik saja.. Innallaha Ma'ana!
Tak ada yang tak bisa selama kita mau berbuat, mencoba, bekerja sama.. Tak ada yang tak akan kita kerjakan selama itu masih untuk kebaikan,
Selasa, 28 Mei 2013
"cerita Tere Liye "
sebuah catatan dari tere yang saya baca pada sore ini..
Cokelat itu aslinya pahit. Coba saja kalian makan cokelat asli, pahit, karena mengandung alkoloid. Nah, yang membuatnya jadi manis setelah diolah, dimasukkan teknologi pangan di dalamnya--baik itu teknologi simpel atau rumit. Ditambahkan gula, pemanis, susu, dsbgnya. Semua orang tertipu besar2an sejak kecil, hingga uzur, kalau menyangka cokelat itu manis dari sananya.
Kopi? Nah, semua orang tahu kalau kopi itu pahit. Pun teh, juga pahit. Tapi ketika dicampurkan dengan gula, krim, pemanis, diseduh dengan air hangat, maka dia berubah menjadi minuman yang enak bagi banyak orang.
Kenapa kita membahas tentang cokelat, kopi dan teh ini? Karena saya teringat nasehat2 orang tua. Mereka pernah bilang, "Hidup ini boleh jadi pahit, anakku, seperti kopi, tapi coba kau tambahkan sesendok gula, maka dia bisa berubah menjadi lezat menyenangkan. Apa itu gula dalam kehidupan? Tidak lain adalah perasaan tulus, selalu bersyukur. Kau selalu bisa membuat minuman kehidupan yang lezat dengan resep gula tersebut."
Well yeah, saya terbengong2 mendengarnya. Orang tua yang kenyang dengan pengalaman hidup, sungguh kalimatnya lebih puitis dibanding pujangga amatiran seperti saya.
Atau yang lain lagi, kita kasih misal. Saya berlari-lari karena hujan, bergegas melintasi jalanan yang juga sedang sibuk oleh orang2 yang kabur dari hujan. Akhirnya tiba di rumah yang hendak dikunjungi. Naik tangga, mengucap salam, orang tua yang dimaksud, tempat saya akan belajar hari ini sedang duduk santai di kursi rotan beranda rumah, menatap jalanan. Nah, setelah menjawab salam, dia bertanya, "Kau kehujanan?"
Saya mengangguk, "Lupa bawa payung."
Dia tertawa, menggeleng, "Anakku, yang membuat kau kehujanan, bukan karena lupa bawa payung. Yang membuat kau kehujanan karena kau melintasi hujan. Coba kalau ditunggu, berteduh. Tidak akan kehujanan. Atau seperti aku sekarang, duduk di rumah, tidak akan pernah kehujanan. Mau badai, petir, angin kencang, mau seperti apa hebatnya di luar sana, kalau kau memilih berteduh, dia tidak akan pernah berhasil membuat kita basah. Tapi sekali kau keluar, mencemplungkan diri, cukup gerimis kecil, pasti basahlah badan. Hidup ini selalu begitu."
Saya menyeka rambut, tidak berselera menanggapi panjang lebar--karena nasehat orang tua selalu lebih baik dipikirkan, tidak akan menang bersilat lidah melawan mereka yang sudah makan asam garam kehidupan.
Aih, saya barusaja menyebut sebuah frase yang menawan: "makan asam garam kehidupan". Kenapa dibilang begitu? Simpel saja, karena orang2 yang lebih tua dibanding kita, tentu makan lebih banyak. Kalau misalnya sehari kita makan 3x, maka orang yang lebih tua setahun dibanding kita, jelas rata2 1000 kali lebih banyak makan dibanding kita. Kalau mereka usianya 10 tahun lebih tua dibanding kita, maka jelas secara rata2 10.000 kali lebih banyak makan dibanding kita. Mereka lebih banyak "makan asam garam kehidupan". Itu istilah, jadi kalau kalian ternyata makanan pokoknya asam dan garam, sehari makan 1kg asam dan garam, ya secara istilah tetap lebih banyak mereka.
Nah, sebagai penutup, memiliki teman yang lebih tua dibanding kita boleh jadi menarik, loh. Dengarkan orang2 yang sudah pensiun, mau pensiun. Dengarkan kakek-nenek kita, dengarkan cerita2 mereka. Kita bisa belajar banyak hal dari mereka. Jangan sebaliknya, mendengarkan nasehat orang tua kandung sendiri ogah. Mendengarkan nasehat dari kakak kandung sendiri pun malasnya tidak ketulungan. Hei, mereka makan asam garam lebih banyak dibanding kita.
https://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/makan-asam-garam/547961645254408
postingan ini mengingatkan saya bagaimana menyikapi kehidupan belajar menrima nasihat dari yang tua
boleh jadi kita berada di zaman serba canggih, namun kehidupan jualah yang menghukum bagaiman kita bersikap dalam bermasyarakat.. :)
syukran bang Tere.. :D
Cokelat itu aslinya pahit. Coba saja kalian makan cokelat asli, pahit, karena mengandung alkoloid. Nah, yang membuatnya jadi manis setelah diolah, dimasukkan teknologi pangan di dalamnya--baik itu teknologi simpel atau rumit. Ditambahkan gula, pemanis, susu, dsbgnya. Semua orang tertipu besar2an sejak kecil, hingga uzur, kalau menyangka cokelat itu manis dari sananya.
Kopi? Nah, semua orang tahu kalau kopi itu pahit. Pun teh, juga pahit. Tapi ketika dicampurkan dengan gula, krim, pemanis, diseduh dengan air hangat, maka dia berubah menjadi minuman yang enak bagi banyak orang.
Kenapa kita membahas tentang cokelat, kopi dan teh ini? Karena saya teringat nasehat2 orang tua. Mereka pernah bilang, "Hidup ini boleh jadi pahit, anakku, seperti kopi, tapi coba kau tambahkan sesendok gula, maka dia bisa berubah menjadi lezat menyenangkan. Apa itu gula dalam kehidupan? Tidak lain adalah perasaan tulus, selalu bersyukur. Kau selalu bisa membuat minuman kehidupan yang lezat dengan resep gula tersebut."
Well yeah, saya terbengong2 mendengarnya. Orang tua yang kenyang dengan pengalaman hidup, sungguh kalimatnya lebih puitis dibanding pujangga amatiran seperti saya.
Atau yang lain lagi, kita kasih misal. Saya berlari-lari karena hujan, bergegas melintasi jalanan yang juga sedang sibuk oleh orang2 yang kabur dari hujan. Akhirnya tiba di rumah yang hendak dikunjungi. Naik tangga, mengucap salam, orang tua yang dimaksud, tempat saya akan belajar hari ini sedang duduk santai di kursi rotan beranda rumah, menatap jalanan. Nah, setelah menjawab salam, dia bertanya, "Kau kehujanan?"
Saya mengangguk, "Lupa bawa payung."
Dia tertawa, menggeleng, "Anakku, yang membuat kau kehujanan, bukan karena lupa bawa payung. Yang membuat kau kehujanan karena kau melintasi hujan. Coba kalau ditunggu, berteduh. Tidak akan kehujanan. Atau seperti aku sekarang, duduk di rumah, tidak akan pernah kehujanan. Mau badai, petir, angin kencang, mau seperti apa hebatnya di luar sana, kalau kau memilih berteduh, dia tidak akan pernah berhasil membuat kita basah. Tapi sekali kau keluar, mencemplungkan diri, cukup gerimis kecil, pasti basahlah badan. Hidup ini selalu begitu."
Saya menyeka rambut, tidak berselera menanggapi panjang lebar--karena nasehat orang tua selalu lebih baik dipikirkan, tidak akan menang bersilat lidah melawan mereka yang sudah makan asam garam kehidupan.
Aih, saya barusaja menyebut sebuah frase yang menawan: "makan asam garam kehidupan". Kenapa dibilang begitu? Simpel saja, karena orang2 yang lebih tua dibanding kita, tentu makan lebih banyak. Kalau misalnya sehari kita makan 3x, maka orang yang lebih tua setahun dibanding kita, jelas rata2 1000 kali lebih banyak makan dibanding kita. Kalau mereka usianya 10 tahun lebih tua dibanding kita, maka jelas secara rata2 10.000 kali lebih banyak makan dibanding kita. Mereka lebih banyak "makan asam garam kehidupan". Itu istilah, jadi kalau kalian ternyata makanan pokoknya asam dan garam, sehari makan 1kg asam dan garam, ya secara istilah tetap lebih banyak mereka.
Nah, sebagai penutup, memiliki teman yang lebih tua dibanding kita boleh jadi menarik, loh. Dengarkan orang2 yang sudah pensiun, mau pensiun. Dengarkan kakek-nenek kita, dengarkan cerita2 mereka. Kita bisa belajar banyak hal dari mereka. Jangan sebaliknya, mendengarkan nasehat orang tua kandung sendiri ogah. Mendengarkan nasehat dari kakak kandung sendiri pun malasnya tidak ketulungan. Hei, mereka makan asam garam lebih banyak dibanding kita.
https://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/makan-asam-garam/547961645254408
postingan ini mengingatkan saya bagaimana menyikapi kehidupan belajar menrima nasihat dari yang tua
boleh jadi kita berada di zaman serba canggih, namun kehidupan jualah yang menghukum bagaiman kita bersikap dalam bermasyarakat.. :)
syukran bang Tere.. :D
Senin, 20 Mei 2013
Belajar Sejarah
Sejarah merupakan bidang studi yang mengekaji masa lampau yang bisa di petik hikmahnya saat ini ( definisi versi Penulis) heheh
saya merasakan enak sejarah belajar itu ketika kelas 4 SD, guru tersebut menjelaskan kisah tentu Ken Arok wuihhh seruu!! namun seiring berjalannya waktu maka pelajaran sejarah itu tidak menarik lagi, nah loo!
mungkin hal ini juga yang di alami seorang pemuda ketika dikerjai oleh salah satu acara reality show di TV. Dia bilang jurusannya IPS eh,,, ditanya tentang Pencipta Lau Indonesia raya jawab Soekarno @_@
anak SD saja tau... :( miris
apa yang mau dibanggakan dengan Pemuda yang sudah tidak ingat dengan sejarah bangsanya? pepatah tinggal pepatah " bangsa yang besar, bangsa yang mengenang sejarah bangsanya" Mengenang disini merupakan melajutkan cita cita pahlawan kita bukan saja tnya "ingat" sudah tidak ada realisasi, Pemuda tadi ingat saja tidak, apalagi untuk melanjutkan perjuangan wallahu'alam!
Sudah sepatutnya kita untuk memulai memperbarui niat, bertekad untuk menjadi baik dari hari ke hari
#SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL
saya merasakan enak sejarah belajar itu ketika kelas 4 SD, guru tersebut menjelaskan kisah tentu Ken Arok wuihhh seruu!! namun seiring berjalannya waktu maka pelajaran sejarah itu tidak menarik lagi, nah loo!
mungkin hal ini juga yang di alami seorang pemuda ketika dikerjai oleh salah satu acara reality show di TV. Dia bilang jurusannya IPS eh,,, ditanya tentang Pencipta Lau Indonesia raya jawab Soekarno @_@
anak SD saja tau... :( miris
apa yang mau dibanggakan dengan Pemuda yang sudah tidak ingat dengan sejarah bangsanya? pepatah tinggal pepatah " bangsa yang besar, bangsa yang mengenang sejarah bangsanya" Mengenang disini merupakan melajutkan cita cita pahlawan kita bukan saja tnya "ingat" sudah tidak ada realisasi, Pemuda tadi ingat saja tidak, apalagi untuk melanjutkan perjuangan wallahu'alam!
Sudah sepatutnya kita untuk memulai memperbarui niat, bertekad untuk menjadi baik dari hari ke hari
#SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Sabtu, 18 Mei 2013
Penyakit Hati yang jadi Pemisah dengan Allah SWT
| pict from lunayunita.blogspot.com |
dan ketika saya mendengar wirid malam, dengan seorang ustad bergelar Lc, beliau menjabarkan kalau do'a di atas merupakn tameng kita untuk tetap terjaga dari 8 penyakit yang memisahkan kita dengan ALLAH SWT, diantaranya :
1. Kegelisahan
2. Kesedihan yang berkepanjangan
3. Malas
4. Lemah
5. Penakut
6. Bakhil, Kikir
7. Berhutang
8. Dikuasai oleh Orang lain
*alma'tsurat kubra
Kamis, 09 Mei 2013
kampuang
Ladang Laweh Batipuh..
sebuah desa di kaki gunung merapi, kecil tapi memiliki penduduk padat,
sawah masih banyak didapat di desa kecil ini, walaupun satu dua sawah sudah menjadi perumahan, namun daerah ini merupakan salah satu lumbung terbesar beras di sekitar Padang Panjang Batipuh Sepuluh Koto ( PaBasKo)
![]() |
| Sawah |
melihat pemandangan yang indah saja sudah merupaka nikmat bagi kita, apalagi kita dapat memetik hasil sawah di atas, mungkin setahun, dua tahun kita tidak melihat sawah ini lagi,,
subhanallah..
walaupun ada hal hal yang mungkin kurang menyenangkan dikampung ini, tapi pada tahap tertentu, sangat mengasyikan melihat warga kampung saling mengingatkan satu sama lain, saling peduli.
tidak mengenal pamrih, walaupun pada saat - saat tertentu mereka akan cekcok, saling mengejek lain sebagainya...
rindu
aku rindu pada masa kecilku, mereka warga kampung peduli dengan apa yang kita kerjakan, mengur jika salah, menyapa ketika salah arah, apakah hari ini itu masih ada,,, rasa rasanya sudah mulai memudar,
adik adikku di " kampuang" ini sudah merasa besar, sudah lebih baik dari mereka yang tua, sudah hebat dalam segala hal, padahal apalah pengalaman hidup yang mereka dapat, tak "setampuk pinang"pun :(
jadi ingat dengan kata - kata agama waktu SD, ilmu yang kita dapat samapai saat ini tak lebih tebal dari kulit Bawang merah yang paling tipis,,, Astaghfirullah.
marilah kita jaga kearifan lokal kampung tercinta ini, walaupun harus mengumpulkan remah remah kejayaan masa lalu, untuk disematkan dimasa depan yang masih abu abu, mungkin juga masih hitam...
LadangLaweh, 090513
Langganan:
Postingan (Atom)
