mudah mudahan kita dapat mengmabil hikmah dari sebuah tulisan ini
Pantat & api
Jika ada nyala api sebesar rumah, tinggi menyala2, panas membara bahkan dari jarak 10 meter sudah terasa, suara kayu bakarnya bergemeletuk mengerikan, maka bagaimana agar kita bisa selamat melewati api tersebut? Tidak merasa panas? Tidak terbakar?
Jawabannya mudah, lewatilah nyala api itu secepat mungkin. Jika bisa melakukannya seperseribu detik, kita akan baik2 saja. Tidak peduli seberapa panasnya api tersebut, wusshh, melesat lewat, selesai. Tidak akan terasa panasnya. Itulah kunci melewatinya. Waktu. Kecuali kita ini sebangsa dengan Nabi, dan api bisa berbalik sifatnya justeru menjadi dingin. Tapi bagaimana bisa melesat melewati nyala api itu dengan kecepatan seperseribu detik? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Sekarang kita balik perumpamaannya, yang saya lebih tahu; Perhatikan sebuah lilin, bukankah kecil sekali nyala apinya? Imut menggemaskan, sama sekali tidak membahayakan, kita injak juga padam, kita tiup juga habis. Tapi coba saja kalian letakkan pantat kita di atasnya, berdetik2, bermenit2, nyala api sekecil itu tetap bisa "menggigit", menyakitkan kita, bukan? Membuat terbakar? Berteriak mengaduh.
Maka, jangan2 begitulah hidup ini. Masalah2 besar yang kita hadapi, kesusahan yang harus kita lewati, beban pikiran yang kita tanggung, sama persis seperti nyala api. Ketika beban pikiran itu besar sekali, berat sekali, maka dia ibarat nyala api sebesar rumah. Bagaimana melewatinya agar kita selamat, tidak terbakar, tidak stres, tidak berpikir negatif? Lewati secepat mungkin. Seperseribu detik. Tapi bagaimanalah melakukannya? Bukankah justeru malah membebani berhari2? Bermalam2? Membuat susah sepanjang minggu, bulan atau tahun? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Yang saya tahu, bahkan ketika masalah itu kecil saja, beban pikiran itu imut menggemaskan seperti nyala lilin saja, tapi ketika kita berlama2, meletakkan pantat kita di atas masalah itu, memikirkannya, maka dia tetap akan menggigit, menyakiti, membakar kita. Inilah situasi simpel yang lebih mudah dipahami.
Apakah kita akan berlama2 meletakkan pantat di sana? Itu pilihan masing2.
*Tere Liye
Jawabannya mudah, lewatilah nyala api itu secepat mungkin. Jika bisa melakukannya seperseribu detik, kita akan baik2 saja. Tidak peduli seberapa panasnya api tersebut, wusshh, melesat lewat, selesai. Tidak akan terasa panasnya. Itulah kunci melewatinya. Waktu. Kecuali kita ini sebangsa dengan Nabi, dan api bisa berbalik sifatnya justeru menjadi dingin. Tapi bagaimana bisa melesat melewati nyala api itu dengan kecepatan seperseribu detik? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Sekarang kita balik perumpamaannya, yang saya lebih tahu; Perhatikan sebuah lilin, bukankah kecil sekali nyala apinya? Imut menggemaskan, sama sekali tidak membahayakan, kita injak juga padam, kita tiup juga habis. Tapi coba saja kalian letakkan pantat kita di atasnya, berdetik2, bermenit2, nyala api sekecil itu tetap bisa "menggigit", menyakitkan kita, bukan? Membuat terbakar? Berteriak mengaduh.
Maka, jangan2 begitulah hidup ini. Masalah2 besar yang kita hadapi, kesusahan yang harus kita lewati, beban pikiran yang kita tanggung, sama persis seperti nyala api. Ketika beban pikiran itu besar sekali, berat sekali, maka dia ibarat nyala api sebesar rumah. Bagaimana melewatinya agar kita selamat, tidak terbakar, tidak stres, tidak berpikir negatif? Lewati secepat mungkin. Seperseribu detik. Tapi bagaimanalah melakukannya? Bukankah justeru malah membebani berhari2? Bermalam2? Membuat susah sepanjang minggu, bulan atau tahun? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Yang saya tahu, bahkan ketika masalah itu kecil saja, beban pikiran itu imut menggemaskan seperti nyala lilin saja, tapi ketika kita berlama2, meletakkan pantat kita di atas masalah itu, memikirkannya, maka dia tetap akan menggigit, menyakiti, membakar kita. Inilah situasi simpel yang lebih mudah dipahami.
Apakah kita akan berlama2 meletakkan pantat di sana? Itu pilihan masing2.
*Tere Liye